Sajak-sajak yang pernah terlupakan...
Aku pernah merangkai sajak-sajak amatir menjadi sekumpulan kalimat yang membentuk puisi cinta kala itu, aku bahagia dengan karya amatir ku. Aku berharap kamu menikmatinya setiap kali dirimu rindu padaku. Di hari yang begitu cerah, kau titipkan padaku secarik kertas berisikan kalimat-kalimat yang menggambarkan betapa sayangnya diriku padamu itu.
"Aku titip di kamu aja ya, kamu yang simpan"-Katamu.
Ingin ku berkata,
"Jangan, itu punyamu. Kamu yang simpan, kalau-kalau kamu rindu aku. Kamu baca surat ini"-Hatiku sedikit menjerit.
Ku kira sehari atau dua hari kertas itu berdiam di rumahku, tak kusangka bertahun-tahun lamanya sampai aku pun lupa pernah menulis hal-hal yang terkesan romantis itu padamu. Tujuanku menulis itu agar kamu dapat membaca kapan pun dirimu butuh aku, tapi segala tujuanku sepertinya kandas. Sampai pada akhirnya aku pernah bertanya padamu,
"Apa ada sesuatu yang kamu lupakan? atau yang tertinggal dirumahku?"
Pada saat ku lontarkan pertanyaan itu, aku berharap kamu teringat. Ternyata segala jawabanmu tidak memenuhi syarat untuk lolos dari pertanyaanku. Aku pun merasa... itu memang hanya sebuah kertas, hanya sekumpulan kalimat tak penting, hanya barang yang tidak dapat diuangkan, tapi berarti bagiku. Karena segala perasaanku tercurah tumpah ruah diatas kertas itu.
Mungkin setelah beberapa hal yang kita lewati bersama, pahit-pahitnya kisah kita ini membuatmu sedikit tersadar atau mulai menyesal? aku sulit menebakmu. Setelah berlalunya fase bersamamu, kemudian aku merasa takut untuk memulai hal yang baru. Tapi, pada seiring berjalannya waktu kala kita berbeda jalan... aku menemukan dia yang menyayangiku lebih dalam lagi.
Aku pun mulai mencoba menulis satu-dua puisi untuknya, walaupun telah lama ku tinggalkan dan sempat berpikir untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu lagi. Tapi, tetap ku coba. Lalu ku berikan melalui pos. Tadinya ingin ku bubuhkan perangko diluar kertasku, supaya lebih terasa 'meyuratnya'. Ku kira, hanya sehari-dua hari kebahagiaannya bertahan atas suratku. Namun aku salah, berhari-hari sampai detik ini pun ia masih setia melantunkan butiran-butiran kata yang tertuang di kertasku itu. Kali ini aku bisa berkata pada dunia...
"Tidak apa-apa, sekarang aku memiliki seorang yang setiap harinya melantunkan sajak-sajak romantisku, menyimpan erat dalam kotak kesayangannya, dan merasa merindu setiap kali ia melihat kertas kecilku itu"-Aku yang sekarang.Terimakasih untukmu yang selalu menjaga curahan hatiku itu, terimakasih telah membuat aku merasa lebih berharga. Terimakasih... aku bersyukur mengenalmu.