Melihat dunia baru...
Kali ini aku bercerita tentang masa putih abu-abuku, saat itu aku pernah sangat menyayangi seseorang. Benar-benar sayang. Mungkin untuk sebagian orang itu hanya 'cinta monyet' nggak seharusnya di seriusin hehehe... tapi mereka salah. Aku sulit melupakan dia cukup lama, bertahun-tahun. Sampai aku merasa, lelah dalam mencintai seseorang. Terdengar berlebihan bagi kamu yang membaca, tapi sungguh itu yang kurasakan.
Hari-hariku dipenuhi kerinduan dan kesedihan atas kepergiannya tanpa adanya sepatah atau dua patah kata darinya. Rindu, dan rindu yang terlintas setiap aku membuka mata dari lelap tidurku bahkan sampai aku menutup mata untuk menyambut pulau mimpi pun aku tetap merindu. Pada masa itu cukup berat aku lalui, ku jadikan sebuah kenangan pun pelajaran untuk tidak terlalu mencintai seseorang sedalam itu. Karena pengalaman-pengalaman percintaan yang ku rasakan pahit-terpahitnya aku merasa semuanya omong kosong belaka.
Sampai aku mencapai babak perkuliahanku, diriku pun mulai serius dalam menata diri. Aku mulai mencari yang terbaik diantara yang baik, karena ingin ku serius dalam percintaanku saat itu. Aku menemukan dirimu yang menurutku cocok dan bisa ku jadikan masa depanku. Ya kamu tau, kamu adalah serius pertamaku. Bertahun-tahun ku jaga, akhirnya kandas juga dalam jurang kebosanan dengan kabut kebohongan yang menyelimuti hubungan kita. Aku sempat kalut dalam hidupku, setiap malam aku ditemani dengan hujan lokal yang merintik di pipi ini. Aku merasa gagal, gagal dalam keseriusan yang ku bangga-banggakan dalam hidupku.
Dari semua cerita yang pernah ku lewati, salah satunya denganmu. Aku merasa lelah untuk mencari atau berjalan dengan akhir destinasi yang sama-sama saja. Putus destinasinya. Aku pikir bisakah aku pergi ke destinasi yang berbeda? sampai di titik aku menemukan dirinya. Aku membahas orang yang berbeda kali ini, dia yang berjarak 252 km jauhnya dari tempatku saat ini. Dia yang pernah menulis lagu untukku, dia yang selalu bercerita menghantarku ke pulau mimpi, dia yang selalu bangga dengan hal-hal kecil yang mampu ku lakukan, dia yang selalu ingin mendekap erat tubuhku saat aku disampingnya. Ya, dia yang sangat menyayangiku dan menganggapku sebagai ganti tulang rusuknya. Berlebihan ya? tapi memang itu yang sesungguhnya terjadi.
Aku mencintai dia lebih keras dibanding masa putih abu-abuku, aku merindukannya lebih dalam daripada aku merindukan cinta pertamaku, dan aku mengaguminya jauh lebih banyak daripada aku mengagumi idolaku. Tanpa disangka-sangka aku bisa tersenyum hanya dengan melihat wajahnya dan berpikir,
"Aku benar-benar bersyukur menjadi milikmu saat ini"-Aku yang setiap harinya jatuh cinta.
Yap, kali ini waktunya aku tutup buku atas semua yang pernah ku lewati bersama mereka, termasuk dirimu yang pernah bertahun-tahun bertahta di hatiku. Selamat tinggal, aku menjadikan kalian sebagai kenangan yang nantinya ku buka bersamanya di dalam pelukannya.