Minggu, 12 Mei 2019

Kali ini aku berbicara tentang aku yang dahulu, aku yang mencintaimu sepenuh hati, aku yang mengagumimu setiap hari, aku yang menunggumu setiap jamnya, dan aku yang tersenyum dikarenakan dirimu. Aku pernah merasa sangat ingin menggenggammu kala itu, aku pernah merasa sangat merindumu padahal kamu ada di sampingku, aku bahkan pernah merasa sangat takut  akan kehilangan dirimu yang jelas-jelas masih tertawa dengan kegiatanmu di hadapanku.

Kala itu aku merasa berdiri di titik yang sama saat kamu melangkah menjauh. Aku yang masih mencarimu, aku yang masih merindumu, aku yang masih menyayangimu tanpa terkikis walaupun dirimu merasa jenuh pada ikatan kita. Saat mendengar kamu yang mulai lelah dengan diriku, aku merasa luluh lantak bagai badai menerjang di hari yang begitu cerah. Aku merasa diriku kurang cukup baik untukmu, walau demikian aku merasa aku tetap berada di titik yang sama. Tetap menyayangimu.

Sempat berpikir ingin ku lepas saja tali yang mengikat kita ini, tapi aku takut. Takut kalau-kalau aku tidak mendapat yang seperti dirimu, yang bisa menerima diriku apa adanya, yang bisa membuatku tertawa setiap harinya, yang bisa membuatku merindu setiap saatnya, dan yang mampu membuatku tetap berdiri di titik yang sama. Ya aku tau... yang mampu hanya dirimu, kala itu.

Semakin lama aku berdiri di titik ini, aku merasa dirimu makin menjauh. Tak lelah aku menunggumu kembali dalam pelukanku, tak jenuh aku menanti dirimu yang dahulu. Namun, semua penantianku kembali terporak-poranda oleh kata maaf yang kamu lontarkan selagi dirimu berbuat salah di hadapanku. Aku ingin menangis di depanmu, tapi aku tetap berdiri di titik yang sama. Aku enggan membuatmu merasa melukai diriku, karena aku menyayangimu.

Saat ini, saat dimana aku bisa melihat kembali diriku yang dahulu. Dia berada di titik yang menyakitkan untuk dirinya, ingin ku rangkul, ku peluk, dan ku katakan...
"Semua akan baik-baik saja, terimakasih sudah mampu bertahan sampai di titik ini. Segala upayamu akan terbayar nanti, kamu sangat berharga dimataku. Aku menyayangimu"
Segelintir kalimat itu yang ku harapkan saat aku menantikanmu yang dahulu kembali padaku kala itu, segelintir kalimat itu juga yang tak pernah kau bisikan pada duniaku. Terimakasih untuk segala pelajaran yang pernah kita lewati bersama, aku tak pernah menyesal mengenalmu sampai detik ini. Namun, aku yang saat ini bukan lah aku yang dahulu. Aku sudah tidak berada di titik yang sama, oleh karena itu jangan mencariku lagi.

The Rabbit in The Moon . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates